Sejarah Suku Jawa ~ Orang Jawa sering juga menyebut dirinya Wong Jowo atau Tiang Jawi.
Jumlah populasinya paling banyak dibandingkan dengan suku-suku bangsa
lain, dan wilayah asal serta wilayah persebarannya di selurug Indonesia
juga paling luas. Program transmigrasi penduduk Jawa ke pulau-pulau besar lain sudah dimulai oleh pemerintahan jajahan Belanda sejak abad ke-18, seperti transmigrasi orang Jawa ke perkebunan besar di sekitar Deli Serdang di Sumatera Utara dan ke daerah provinsi Lampung. Pada abad itu banyak pula orang Jawa yang dibawa ke berbagai perkebunan di Suriname (Amerika Selatan), ke Afrika Selatan, dan ke Haiti di Lautan Teduh (Pasifik).
Daerah kebudayaan Jawa meliputi bagian tengah sampai ke bagian timur Pulau Jawa, sedangkan bagian baratnya adalah daerah kebudayaan suku bangsa Sunda. Berdasarkan pengaruh luar dan pola kehidupan sosial budaya masyarakatnya para ahli beranggapan bahwa daerah yang menjadi orientasi kebudayaan Jawa adalah sekitar Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang dan Kediri. Sementara itu Yogyakarta dan Surakarta dianggap sebagai pusat utama kebudayaan Jawa. Keduanya adalah bekas kerajaan Mataram Islam yang pecah pada tahun 1755. Masyarakat di sekitar pantai utara dan timur lebih dikenal sebagai orang Jawa pesisir dan Jawa Ujung Timur.
Daerah kebudayaan Jawa meliputi bagian tengah sampai ke bagian timur Pulau Jawa, sedangkan bagian baratnya adalah daerah kebudayaan suku bangsa Sunda. Berdasarkan pengaruh luar dan pola kehidupan sosial budaya masyarakatnya para ahli beranggapan bahwa daerah yang menjadi orientasi kebudayaan Jawa adalah sekitar Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang dan Kediri. Sementara itu Yogyakarta dan Surakarta dianggap sebagai pusat utama kebudayaan Jawa. Keduanya adalah bekas kerajaan Mataram Islam yang pecah pada tahun 1755. Masyarakat di sekitar pantai utara dan timur lebih dikenal sebagai orang Jawa pesisir dan Jawa Ujung Timur.
Bahasa Suku Jawa
Bahasa Jawa dalam perkembangannya telah terbentuk menjadi
suatu kompleks sistem bahasa yang bertingkat-tingkat secara sosial. Ada
tiga gaya bahasa yang paling dasar, yaitu gaya resmi, setengah resmi,
dan tidak resmi. Bahasa resmi dibedakan atas tiga tingkatan pemakaian
bahasa yaitu ngoko, madya, dan krami (krama). Kemudian dari kombinasi
ketiganya terbentuk lagi enam gaya lain. Bahasa ngoko dipakai untuk
orang yang sudah dikenal dekat dan akrab dan terhadap orang lain yang
lebih muda usia dan lebih rendah derajat sosialnya (ngoko lugu dan ngoko
andap). Bahasa krami digunakan untuk berbicara dengan orang yang belum
akrab, lebih tua dan lebih tinggi status sosialnya. Bahasa madya muncul
dari variasi pemakaian bahasa ngoko dan krami itu sendiri. Di daerah
Surakarta dan Yogyakarta dikenal gaya bahasa kedaton yang digunakan di
lingkungan istana Sultan dan Kesunanan. Di desa-desa berkembang bahasa
resmi yang disebut krama desa.
Masyarakat Suku Jawa
Kesatuan hidup setempat masyarakat Jawa yang utama adalah
desa yang dikepalai oleh seorang lurah atau Kepala desa. Setiap desa
terdiri atas beberapa bagian yang disebut dukuh (kampung) yang
masing-masing dikepalai oleh seorang Kepala Dukuh. Rumah-rumah penduduk
yang terdapat dalam sebuah dukuh dilengkapi dengan lumbung padi, kandang
ternak dan perigi. Di setiap desa terdapat sebuah balai desa tempat
pertemuan pemerintahan desa, sebuah mesjid, beberapa buah langgar
(mesjid kecil), sekolah, dan pasar yang hanya ramai sekali seminggu.
Bentuk rumah orang Jawa yang tradisional ditentukan oleh
bentuk atapnya. Berdasarkan bentuk atap itu ada yang disebut rumah
limasan, serontong, joglo, panggangepe, daragepak, macan nyerum, klabang
nyander, tajuk, kutuk ngambang dan sinom. Bentuk rumah limasan adalah
paling banyak dimiliki penduduk. Golongan bangsawan biasanya membangun
rumah dengan bentuk joglo.
Masyarakat desa Jawa dipimpin oleh seorang Kepala desa yang disebut Lurah, sering juga disebut bekel, petinggi atau glondong. Dalam tugasnya lurah dibantu oleh perabot desa yang terdiri dari kami tuwo (wakil lurah), carik (jurutulis), kebayan (pesuruh desa), jagabaya (penjaga keamanan), ulu-ulu (pengawas pengairan) dan seorang modin (petugas mesjid yang biasa memimpin upacara keagamaan desa). Untuk melancarkan tugas Lurah dan Perabot desa merek didukung oleh hasil dari tanah garapan yang lazim disebut tanah bengkok.
Dalam masyarakat Jawa terdapat beberapa lapisan sosial yang dianggap masih nyata perbedaannya. Golongan bangsawan keturunan raja-raja biasanya disebut golongan bendoro atau bendoro raden. Sering setingkat dengan itu adalah golongan priyayi, yaitu para kaum terpelajar yang memang biasanya berasal dari golongan bangsawan juga. Lapisan sosial paling bawah adalah golongan yang disebut wong cilik, seperti golongan petani di desa. Akan tetapi wong cilik di desa juga suka membagi diri ke dalam tiga golongan, yaitu wong baku (keturunan pendiri desa), golongan kuli gandhok (orang yang tidak memiliki tanah atau rumah sendiri) dan jaka sinoman (bujangan yang tidak mempunyai pekerjaan tetap tetapi memiliki harta orang tuanya).
Masyarakat desa Jawa dipimpin oleh seorang Kepala desa yang disebut Lurah, sering juga disebut bekel, petinggi atau glondong. Dalam tugasnya lurah dibantu oleh perabot desa yang terdiri dari kami tuwo (wakil lurah), carik (jurutulis), kebayan (pesuruh desa), jagabaya (penjaga keamanan), ulu-ulu (pengawas pengairan) dan seorang modin (petugas mesjid yang biasa memimpin upacara keagamaan desa). Untuk melancarkan tugas Lurah dan Perabot desa merek didukung oleh hasil dari tanah garapan yang lazim disebut tanah bengkok.
Dalam masyarakat Jawa terdapat beberapa lapisan sosial yang dianggap masih nyata perbedaannya. Golongan bangsawan keturunan raja-raja biasanya disebut golongan bendoro atau bendoro raden. Sering setingkat dengan itu adalah golongan priyayi, yaitu para kaum terpelajar yang memang biasanya berasal dari golongan bangsawan juga. Lapisan sosial paling bawah adalah golongan yang disebut wong cilik, seperti golongan petani di desa. Akan tetapi wong cilik di desa juga suka membagi diri ke dalam tiga golongan, yaitu wong baku (keturunan pendiri desa), golongan kuli gandhok (orang yang tidak memiliki tanah atau rumah sendiri) dan jaka sinoman (bujangan yang tidak mempunyai pekerjaan tetap tetapi memiliki harta orang tuanya).
Bertani adalah mata pencaharian sebagian besar masyarakat Jawa
yang di desa-desa. Sebagian lainnya hidup dari pekerjaan sebagai
pegawai, tukang, dan pedagang. Pertanian ada yang dilakukan di
sawah-sawah irigasi dan tadah hujan, terutama untuk menanam padi, ada
pula yang di tegalan, dimana ditanam ketela pohon, jagung, ketela
rambat, kedelai, kacang tanah, kacang tunggak dan sebagainya. Tidak
semua petani memiliki lahan pertanian sendiri. Sebagian besar malah
menjadi buruh, yaitu mendapat upah dari pekerjaan mengolah sawah orang
lain. Di lingkungan mereka berbagai macam peternakan sudah banyak
dikembangkan, walaupun sifat dan jumlahnya amat sederhana.
Kekerabatan Suku Jawa
Prinsip hubungan kekerabatan dalam masyarakat Jawa adalah
bilateral, dimana baik kerabat pihak ayah maupun pihak ibu
diklasifikasikan menjadi satu dengan istilah yang sama. Misalmya siwa
atau uwa untuk saudara lelaki ayah dan ibu yang lebih tua, lalu istilah
paman untuk saudara lelaki ayah dan ibu yang lebih muda. kelompok
kekerabatan yang terpenting dalam masyarakat ini adalah keluarga inti
yang mereka sebut somah atau kuluwarga. Kelompok kekerabatan yang lebih
luas adalah sanak sedulur, yaitu kerabat dari pihak lelaki atau wanita
yang ditarik dari seorang kakek atau nenek moyang sampai derajat ketiga.
Kelompok ini amat berperan dalam berbagai kegiatan upacara daur hidup
seseorang.
Kelompok kerabat yang lebih panjang lagi adalah alur waris yang ditarik sepanjang tujuh keturunan. Biasanya alur waris ini berperan dalam rangka pemujaan kepada leluhur. Perkawinan biasanya dilaksanakan dengan upacara adat yang cukup kompleks sesuai dan lebih meriah dibandingkan dengan upacara kematian misalnya. Sesudah upacara perkawinan orang Jawa tidak terlalu mempersoalkan dimana mereka akan menetap, namun seseorang akan bangga kalau ia langsung memiliki rumah sendiri setelah ia menikah.
Kelompok kerabat yang lebih panjang lagi adalah alur waris yang ditarik sepanjang tujuh keturunan. Biasanya alur waris ini berperan dalam rangka pemujaan kepada leluhur. Perkawinan biasanya dilaksanakan dengan upacara adat yang cukup kompleks sesuai dan lebih meriah dibandingkan dengan upacara kematian misalnya. Sesudah upacara perkawinan orang Jawa tidak terlalu mempersoalkan dimana mereka akan menetap, namun seseorang akan bangga kalau ia langsung memiliki rumah sendiri setelah ia menikah.
Agama Dan Kepercayan Suku Jawa
Agama Islam dipeluk oleh banyak orang Jawa, walapun di
beberapa tempat juga banyak pemeluk agama lain. Tetapi orang Jawa yang
beragama Islam juga banyak dipengaruhi oleh unsur agama lain, mulai dari
kepercayaan asli (Kejawen), Hindu, Budha, Nasrani. Orang Jawa yang
mengakui ajaran Islam namun tidak menjalankan sepenuhnya disebut
golongan kejawen, yaitu mereka yang lebih mengutamakan ajaran leluhur
yang menekankan kebatinan dalam diri. Golongan inilah yang sekarang
diakui sebagai salah satu kelompok aliran kepercayaan di Indonesia.
Suasana Kejawen mengajarkan kepada mereka tentang adanya kekuatan adikodrati yang mereka sebut kesakten dan tentang masih berpengaruhnya roh para leluhur dan roh-roh alam dalam kehidupan manusia, seperti makhluk-makhluk halus yang mereka sebut memedi, lelembut, tuyul, demit, jin. Bila ingin hidup tanpa gangguan atau malah dibantu oleh makhluk-makhluk halus tersebut maka seseorang harus berbuat sesuatu untuk mempengaruhinya, misalnya dengan berprihatin, berpuasa, mengadakan selamatan dan menyampaikan sesaji. Selamatan dengan memberikan sesaji tertentu adalah cara yang paling sering mewarnai kehidupan religi orang Jawa. Sungguhpun begitu upacara selamatan selalu dipimpin oleh seorang modin. [Suku Dunia]
Suasana Kejawen mengajarkan kepada mereka tentang adanya kekuatan adikodrati yang mereka sebut kesakten dan tentang masih berpengaruhnya roh para leluhur dan roh-roh alam dalam kehidupan manusia, seperti makhluk-makhluk halus yang mereka sebut memedi, lelembut, tuyul, demit, jin. Bila ingin hidup tanpa gangguan atau malah dibantu oleh makhluk-makhluk halus tersebut maka seseorang harus berbuat sesuatu untuk mempengaruhinya, misalnya dengan berprihatin, berpuasa, mengadakan selamatan dan menyampaikan sesaji. Selamatan dengan memberikan sesaji tertentu adalah cara yang paling sering mewarnai kehidupan religi orang Jawa. Sungguhpun begitu upacara selamatan selalu dipimpin oleh seorang modin. [Suku Dunia]

0 Komentar untuk "Sejarah Suku Jawa"